[AGS] Sidebar Banner Blog - School Admission

Dongeng Sangkuriang beserta Pesan Moralnya

dongeng sangkuriang

Dongeng Sangkuriang berasal dari Jawa Barat. Cerita ini mengisahkan seorang pria yang jatuh cinta dengan ibunya sendiri. Yuk, simak kisah dan pesan moralnya! 

—

Apakah kamu pernah mendengar Gunung Tangkuban Perahu? Gunung ini berasal dari legenda rakyat Jawa Barat tentang Sangkuriang yang jatuh cinta kepada ibunya sendiri, Dayang Sumbi. Kira-kira, seperti apa kisahnya? Yuk, simak! 

 

Dongeng Sangkuriang dalam Bahasa Indonesia 

Pada zaman dahulu, ada seorang dewa dan dewi yang melanggar aturan di kayangan sehingga dihukum untuk hidup di bumi sambil melakukan kebaikan. Sang dewa diubah menjadi anjing bernama Tumang dan sang dewi diubah menjadi babi hutan bernama Wayung Hang,

Tumang tinggal di Istana dan dipelihara oleh Raja Sumbing Prabangkara. Suatu hari, sang raja pergi berburu ke hutan tempat Wayung Hyang berada. Saat beristirahat, raja meninggalkan air seninya dalam tempurung kelapa. Wayung Hyang tidak sengaja meminumnya hingga akhirnya Hamil. Beberapa bulan kemudian, ia melahirkan bayi perempuan.

Saat sang raja kembali ke hutan, ia mendengar tangisan bayi dan menemukan ada bayi perempuan. Tanpa tahu bahwa bayi itu anaknya, raja membawa ya ke Istana dan memberinya nama Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi tumbuh menjadi gadis paling cantik di kerajaan. Banyak Pangeran memperebutkannya hingga membuat Dayang Sumbi tidak nyaman. Ia memilih meninggalkan Istana dan tinggal di tempat yang sepi bersama Tumang.

Suatu hari, saat sedang menenun, alat tenunnya jatuh ke tanah. Karena malas mengambilnya, Dayang Sumbi berkata bahwa siapapun yang mengambilkan alat tenun itu akan dianggap saudara jika perempuan, atau suami jika laki-laki. Tiba-tiba, Tumang datang mengambilkan alat tenun tersebut. Karena telah mengucap janji, Dayang Sumbi akhirnya menikah dengan Tumang. 

Saat malam bulan purnama, Tumang kembali ke wujud aslinya sebagai dewa tampan. Lalu, Dayang Sumbi Hamil dan melahirkan anak laki-laki bernama Sangkuriang.

Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda yang kuat dan tampan. Ia sangat menyayangi ibunya dan tidak pernah tahu bahwa Tumang, anjing yang bersama mereka, adalah ayahnya. 

Suatu hari, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang berburu rusa. Ia pergi berburu bersama Tumang, tapi setelah berhari-hari di hutan, ia tidak menemukan seekor rusa pun. Saat melihat seekor babi hutan, ia menyuruh Tumang mengejarnya. Tapi, Tumang hanya diam saja karena babi hutan itu adalah Wayung Hyang, nenek Sangkuriang. 

Karena marah Tumang tidak menuruti perintahnya, Sangkuriang tanpa sengaja memanah Tumang hingga mati. Sebelum meninggal, Tumang meminta Sangkuriang membawa hatinya untuk diberikan kepada Dayang Sumbi. 

Saat Dayang Sumbi mengetahui kebenarannya, ia sangat marah. Ia memukul kepala Sangkuriang hingga meninggalkan bekas luka, lalu mengusirnya dari rumah. 

Tahun demi tahun berlalu, Sangkuriang tumbuh menjadi pria tampan. Sementara itu, Dayang Sumbi tetap mudah dan cantik karena darah dewa. Suatu hari, Sangkuriang kembali ke desa lamanya, tapi keduanya tidak saling mengenal. Mereka kemudian jatuh cinta dan berencana menikah.

Sebelum pernikahan berlangsung, Dayang Sumbi membetulkan rambut Sangkuriang dan melihat bekas luka di kepalanya. Saat itu ia sadar bahwa pria tersebut adalah anaknya. Dayang Sumbi membatalkan pernikahan ya dan menjelaskan semua kepada Sangkuriang. Tapi, Sangkuriang menolak dan tetap ingin menikahinya. 

Untuk menghentikan ya, Dayang Sumbi memberi syarat yang mustahil. Ia berkata bahwa akan menikahi Sangkuriang jika ia berhasil membuat danau besar dan perahu raksasa dalam satu malam.

Dengan kekuatan gaibnya, Sangkuriang memanggil para jin dan makhluk halus untuk membantunya. 

Pekerjaan itu hampir selesai sebelum fajar tiba. Melihat hal itu, Dayang Sumbi panik dan segera membuat api besar di setelah Timur agar terlihat terang seperti pagi hari. Para jin mengira matahari sudah terbit, sehingga mereka melarikan diri dan meninggalkan pekerjaan itu. 

Saat menyadari dirinya ditipu, Sangkuriang sangat marah. Ia melempar tempurung kelapa yang digunakannya untuk menggali tanah, dan tempurung itu berubah menjadi Gunung Manglayang. 

Kemudian, dengan penuh amarah, ia menendang perahu raksasa itu hingga terbalik. Perahu tersebut berubah menjadi Gunung Tangkuban Perahu yang artinya perahu yang terbalik.

Baca juga: Dongeng Malin Kundang dan Pesan Moralnya

 

Dongeng Sangkuriang Bahasa Inggris

Once upon a time, a god and a goddess broke the rules in heaven and were punished to live on earth while doing good deeds. The god was turned into a dog named Tumang, while the goddess became a swine named Wayung Hyang.

Tumang lived in the palace and belonged to King Sumbing Prabangkara. One day, the king went hunting in the forest where Wayung Hyang lived. While resting in the forest, the king left his urine in a coconut shell. Wayung Hyang, who was thirsty, accidentally drank it and became pregnant. Months later, she gave birth to a baby girl.

When the king returned to the forest, he heard a baby crying and found the little girl. Without knowing she was his own daughter, he brought her to the palace and named her Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi grew into the most beautiful girl in the kingdom. Many princes fought over her, making her uncomfortable. She decided to leave the palace and live alone in a quiet place with Tumang, who always stayed by her side.

One day, while weaving, her loom fell to the ground. Feeling lazy, she said that whoever picked it up would become her sibling if it was a woman, or her husband if it was a man. Suddenly, Tumang brought back the loom. Since she had made the promise herself, Dayang Sumbi married him.

At night during the full moon, Tumang returned to his true form as a handsome god. Soon, Dayang Sumbi became pregnant and gave birth to a baby boy named Sangkuriang.

Sangkuriang grew up to be a strong and handsome young man. He loved his mother very much and never knew that Tumang, the dog who always stayed with them, was actually his father.

One day, Dayang Sumbi asked Sangkuriang to hunt for a deer’s heart. Sangkuriang went hunting with Tumang, but after days in the forest, he could not find any deer. Afraid to return home empty-handed, he became frustrated. When he saw a pig in the forest, he ordered Tumang to chase it. Tumang stayed silent because the pig was Wayung Hyang, Sangkuriang’s grandmother.

Angry at Tumang for not obeying him, Sangkuriang accidentally shot Tumang with his arrow. Before dying, Tumang asked Sangkuriang to take his heart home to Dayang Sumbi. Sangkuriang sadly obeyed.

When Dayang Sumbi realized the truth, she became furious. She hit Sangkuriang on the head, leaving a scar, and cast him away from home.

Years passed, and Sangkuriang grew into a handsome man. Meanwhile, Dayang Sumbi remained young and beautiful because of her divine blood. One day, Sangkuriang returned to his old village, but neither he nor Dayang Sumbi recognized each other. They soon fell in love and planned to get married.

Before the wedding, Dayang Sumbi fixed Sangkuriang’s hair and noticed the scar on his head. She immediately realized that he was her son. Shocked, she told Sangkuriang the truth and canceled the marriage. However, Sangkuriang refused to accept it and insisted on marrying her.

To stop him, Dayang Sumbi gave him an impossible task. She said she would marry him only if he could build a huge lake and a giant boat in one night.

Using his supernatural powers, Sangkuriang called spirits and genies to help him. The work was almost finished before dawn. Seeing this, Dayang Sumbi became worried and quickly made a huge fire in the east so the sky looked bright like a sunrise.

The spirits thought morning had arrived and immediately ran away, leaving the work unfinished. Realizing he had been tricked, Sangkuriang became furious. He threw the coconut shell he had used to dig the ground, and it became Mount Manglayang.

Then, in anger, he kicked the giant boat upside down. The boat later became Mount Tangkuban Perahu, which means “Upside-Down Boat.”

Baca juga: Cerita Dongeng Pendek untuk Anak Sebelum Tidur

 

Pesan Moral Sangkuriang 

Wah, seru banget ya dongeng Sangkuriang singkat di atas! Pesan moral apa yang bisa kita pelajari dari cerita tersebut? Yuk, simak!

1. Pentingnya Mengendalikan Emosi

Sangkuriang tidak bisa mengendalikan emosinya saat Tumang tidak menuruti perintahnya. Karena itu, tanpa sengaja ia membunuh Tumang, anjing kesayangannya. Dari sini, kita bisa belajar bahwa saat sedang marah, sebaiknya kita tetap tenang dan tidak buru-buru mengambil keputusan.

2. Menghindari Sifat Curang

Dayang Sumbi berusaha menggagalkan pekerjaan Sangkuriang dengan cara menipu para jin. Perbuatan curang ini sebaiknya tidak ditiru, ya. Karena bisa menimbulkan masalah dan membuat orang lain marah atau kecewa. Sebaiknya, kita bersikap jujur dalam menghadapi masalah.

3. Menerima Kegagalan

Saat tahu dirinya gagal menyelesaikan tugas, Sangkuriang menjadi sangat marah hingga menendang perahu yang dibuatnya. Kegagalan adalah hal yang bisa terjadi dalam hidup. Tapi, kita harus menerima ya dengan sabar dan tidak melampiaskannya dengan kemarahan.

—

Nah, itulah kisah Sangkuriang lengkap dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, serta pesan moralnya. Membacakan dongeng dalam bahasa Inggris dapat menambah kosakata sekaligus meningkatkan imajinasi anak. Selain itu, anak juga bisa mendapatkan pelajaran atau pesan moral dari kisah tersebut.

Si Kecil juga bisa belajar dengan pendekatan yang seru dan menyenangkan di Alta Global School. Disini, Si Kecil tidak hanya belajar akademik saja tapi juga pembentukan karakter dan mengenal minat bakat mereka. Yuk, klik banner berikut untuk bergabung!

free trial

Sumber: 

Times Indonesia. 2020. Sangkuriang: The Legend of Tangkuban Perahu [daring]. Tautan: https://timesindonesia.co.id/english/308437/sangkuriang-the-legend-of-tangkuban-perahu

Explore Sunda. Sangkuriang – The Legend of Mount Tangkuban Perahu [daring]. Tautan: https://www.exploresunda.com/sangkuriang.html

Katadata. 2023. Cerita Rakyat Sangkuriang jadi Legenda Asal-usul Tangkuban Perahu [daring]. Tautan: https://katadata.co.id/lifestyle/varia/63ec689e5b73b/cerita-rakyat-sangkuriang-jadi-legenda-asal-usul-tangkuban-perahu (Diakses pada 30 April 2026).

Want the Best for Your Child?
We are Here to help!

Get free consultation and discover a hybrid international-standard learning experience for your child. Fill out the form now!

Jotform Alta Global School Jotform Alta Global School
Devi Lianovanda